Wednesday, 7 March 2018



Mengendalikan Resistensi Antimikroba Melalui Penggunaan Antibiotik Secara Bijak dan Bertanggung Jawab dengan Menjembatani Sektor Kesehatan Hewan dan Masyarakat Melalui Konsep One Health 


Oleh: Diannur Wahyu Marini
 


“Organisasi Kesehatan Dunia, World Health Organization (WHO) memberi peringatan bahwasannya banyak negara yang tidak siap menghadapi resistensi antimikroba”. Begitulah salah satu kalimat yang penulis kutip dalam sebuah majalah BBC news Indonesia dua tahun terakhir. Penelitian WHO menunjukkan bahwa dari 133 negara yang di survei, hanya 34 diantaranya yang memiliki perencanaan untuk melawan resistensi. Laporan dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2016), melaporkan angka kematian manusia akibat resistensi antimikroba sampai tahun 2014 sebesar 700.000 jiwa/ tahun. Lebih mengerikan lagi, diperkirakan dengan semakin cepatnya penyebaran infeksi oleh bakteri, pada tahun 2050 diperkirakan kematian akibat Antimicrobial Resistance (AMR) lebih besar dibandingkan kematian yang disebabkan oleh kanker, yakni mencapai 10 juta jiwa/ tahun.

Data WHO menyebutkan bahwa pada tahun 2013 terdapat 480.000 kasus baru multidrug-resistent tuberculosis (MDR-TB) di dunia. Data-data tersebut menunjukkan bahwa persoalan resistensi antimikroba mulai menjadi isu kesehatan masyarakat yang semakin menyita perhatian para pemangku kepentingan kesehatan di seluruh dunia. Tentu pertanyaan yang muncul dari benak kita adalah “Mengapa penggunaan antibiotik secara irrasional/ tidak bertanggung jawab dapat menjadi keprihatinan global?, apakah yang dimaskud dengan resistensi antimikroba?, bagaimana bisa terjadi?, dan yang paling penting adalah bagaimana cara pencegahannya?”.

Resistensi antimikroba adalah kemampuan mikroorganisme (bakteri, virus, dan parasit) untuk menghentikan kerja/ efek antimikroba (antibiotik, antiviral, anti malaria) berakibat pada perawatan standar menjadi tidak efektif sehingga infeksi terus berlanjut dan menyebar (WHO, 2017). Resistensi antimikroba terjadi ketika mikroorganisme seperti bakteri, virus, jamur dan parasit mengalami perubahan sehingga obat-obatan yang digunakan untuk menyembuhkan infeksi yang ditimbulkan mikroorganisme ini menjadi tidak efektif karena mikroorganisme semakin sukar untuk disembuhkan.

Dalam sebuah seminar bertajuk "Cegah Resistensi Antibiotika Demi Selamatkan Manusia" Menteri Kesehatan Prof. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, Sp. M, memberikan pernyataan pembuka bahwa penggunaan antibiotik yang tidak bijak menjadi penyebab terjadinya resistensi obat. Dan ini terjadi tidak hanya pada manusia tetapi juga hewan. Ternak sapi yang diberikan antibiotik, tanpa diikuti dengan pemberian obat yang benar sesuai dengan dosis yang ditentukan dan lama waktu pemberian yang tepat oleh peternak akan memacu muculnya bakteri resisten. Bakteri resisten tersebut dalam tubuh ternak akan tumbuh dan bereplikasi memperbanyak diri. Selama proses metabolisme hingga pengeluaran kotoran ternak, bakteri resisten ini ikut keluar bersamaan dengan feses dan mengkontaminasi ke lingkungan/ tanaman sehingga mengakibatkan pencemaran lingkungan dan kontaminasi sayur serta buah-buahan oleh bakteri resisten ini. Melalui angin, feses yang telah kering akan diterbangkan oleh angin dan akan mengkontaminasikan manusia dan benda hidup lainnya. Penelitian yang dilakukan oleh Tim dan Texas menemukan bahwa dari hasil debu yang mereka kumpulkan dari 10 peternakan domba di Lone Star, Tim menemukan bahwa sampel berisi bakteri yang memiliki gen resisten. Hal ini menunjukkan bahwa debu kini menjadi media pembawa (mechanism transport). Berangkat dari kalimat “from the farm to the table”, daging yang telah terkontaminasi bakteri resisten secara otomatis masuk kedalam tubuh manusia melalui hidangan di meja makan, kemudian tumbuh dan memperbanyak diri dalam tubuh manusia.

Pada manusia, praktik penggunaan antibiotik di masyarakat lebih merupakan praktik swa-medikasi, membeli antibiotik di warung atau apotek tanpa resep, berhenti mengkonsumsi antibiotik begitu gejala berkurang, dan memberikan antibiotik kepada tetangga atau orang lain dengan gejala sakit yang sama. Tentu saja hal-hal seperti ini sering kita temukan di lingkungan sekitar kita. Sehingga kesadaran akan penyebaran bakteri resisten harus menjadi penting untuk dikendalikan. Selain interaksi antara manusia, interaksi antara manusia hewan dan lingkungan kian menjadi ancaman kesehatan di tingkat regional maupun internasional, sehingga perlu adanya suatu konsep kerja sama diantara semua pemangku kepentingan secara professional dalam mencegah dampak resistensi antimikroba. 

One Health merupakan sebuah strategi dunia untuk mengembangkan kolaborasi dan komunikasi interdisiplin dalam seluruh pelayanan aspek kesehatan dengan melibatkan tiga domain utama dalam pendekatan One Health, yaitu manusia, hewan dan lingkungan. Dimana, manusia, hewan dan lingkungan/ ekosistem saling tergantung dan saling mempengaruhi dan menyebar begitu cepat melalui lingkungan dan iklim, tingkah laku manusia dan masyarakat, pangan pertanian, serta ekonomi dan pembangunan. One Health menjadi jawaban yang paling efektif untuk menjawab ancaman resistensi antimikroba. One Health menjadi begitu penting karena penggunaan antibiotik secara tidak hati-hati baik pada kesehatan manusia maupun agrikultur hanya dapat dikurangi melalui tindakan yang dilakukan bersama-sama secara kolaboratif oleh seluruh sektor terkait: kesehatan manusia, hewan, ikan termasuk juga budidaya air, dan ekosistem serta kesehatan lingkungan.

Penulis juga memiliki pengalaman mengikuti pelatihan One Health yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Mataram selama tiga hari di tahun 2016. Dalam pelatihan tersebut, penulis menyadari bahwa komunikasi, kolaborasi dan kepercayaan antara praktisi kesehatan manusia, hewan dan lingkungan merupakan jantung dari konsep ini. Konsep ini membicarakan hal yang sangat luas, mulai dari penyakit–penyakit menular (zoonosis) dan kronis yang muncul, penyalahgunaan antibiotik dan penggunaan yang berlebihan dari antibiotik. Hal-hal lain yang menjadi isu penting adalah upaya pencegahan infeksi yang efektif melalui penerapan hidup bersih dan  higienis, sanitasi dan biosekuriti dan mengoptimalkan penggunaan antimikroba. Melihat seluruh pemaparan kasus AMR diatas, sudah saatnya kita memperlihatkan kekompakan kita untuk sama-sama saling sadar akan ancaman AMR. Kita tidak usah lagi melihat resistensi antimikroba sebagai masalah yang berdiri sendiri, tetapi juga terkait dengan berbagai sektor.
Sebagai seorang mahasiswa yang bergelut di bidang peternakan, yang nantinya akan menyediakan protein hewani yang bersumber dari daging, telur maupun susu dari hasil produksi ternak, dimana ternak juga menjadi domain utama sebagai karier/ pembawa resistensi mikroba, diharapkan mampu menyikapi tantangan untuk meningkatkan kesadaran dalam penggunaan antimikroba secara bijak, serta menggali berbagai informasi untuk mendorong dan mendukung penentuan, pengembangan, penggunaan dan penegakan aturan/ kebijakan terkait pengendalian pengunaan antimikroba di Indonesia. Mulai dari hal – hal yang kecil, misalnya mulailah dengan tidak ketergantungan mengkonsumsi antibiotik untuk penyakit-penyakit yang sekiranya tidak perlu menggunakan antibiotik, mulailah menjaga kebersihan dimanapun berada, memasak makanan terutama daging hingga matang. Kepada para peternak, lebih bijak lagi dalam memberikan antibiotik kepada ternaknya, dan sebaiknya mengkonsultasikan dosis dan frekuensi pemberian kepada dokter hewan.
Penulis berharap, penguatan otoritas veteriner dalam pengendalian penyakit hewan dapat dioptimalkan, menjadikan urusan kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat sebagai urusan yang wajib dalam PERDA, dan penguatan kolaborasi, koordinasi dan komunikasi dengan sektor terkait. Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) juga dapat meningkatkan koordinasi dan harmonisasi dengan pemerintah daerah dalam penggunaan antibiotik secara bijak dan bertanggung jawab dalam pencegahan dan pengendalian AMR.
  
Terimakasih banyak pembaca. semoga bermanfaat. 
IG: diannurwm