Mengendalikan
Resistensi Antimikroba Melalui Penggunaan Antibiotik Secara Bijak dan
Bertanggung Jawab dengan Menjembatani Sektor Kesehatan Hewan dan Masyarakat
Melalui Konsep One Health
Oleh: Diannur Wahyu Marini
“Organisasi
Kesehatan Dunia, World Health
Organization (WHO) memberi peringatan bahwasannya banyak negara yang tidak
siap menghadapi resistensi antimikroba”. Begitulah salah satu kalimat yang
penulis kutip dalam sebuah majalah BBC
news Indonesia dua tahun terakhir. Penelitian WHO menunjukkan bahwa dari 133
negara yang di survei, hanya 34 diantaranya yang memiliki perencanaan untuk
melawan resistensi. Laporan dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia
(2016), melaporkan angka kematian manusia akibat resistensi antimikroba sampai
tahun 2014 sebesar 700.000 jiwa/ tahun. Lebih mengerikan lagi, diperkirakan
dengan semakin cepatnya penyebaran infeksi oleh bakteri, pada tahun 2050
diperkirakan kematian akibat Antimicrobial
Resistance (AMR) lebih besar dibandingkan kematian yang disebabkan oleh
kanker, yakni mencapai 10 juta jiwa/ tahun.
Data
WHO menyebutkan bahwa pada tahun 2013 terdapat 480.000 kasus baru multidrug-resistent tuberculosis
(MDR-TB) di dunia. Data-data tersebut menunjukkan bahwa persoalan resistensi
antimikroba mulai menjadi isu kesehatan masyarakat yang semakin menyita
perhatian para pemangku kepentingan kesehatan di seluruh dunia. Tentu pertanyaan
yang muncul dari benak kita adalah “Mengapa penggunaan antibiotik secara
irrasional/ tidak bertanggung jawab dapat menjadi keprihatinan global?, apakah
yang dimaskud dengan resistensi antimikroba?, bagaimana bisa terjadi?, dan yang
paling penting adalah bagaimana cara pencegahannya?”.
Resistensi antimikroba adalah kemampuan mikroorganisme
(bakteri, virus, dan parasit) untuk menghentikan kerja/ efek antimikroba
(antibiotik, antiviral, anti malaria) berakibat pada perawatan standar menjadi
tidak efektif sehingga infeksi terus berlanjut dan menyebar (WHO, 2017). Resistensi
antimikroba terjadi ketika mikroorganisme seperti bakteri, virus, jamur dan
parasit mengalami perubahan sehingga obat-obatan yang digunakan untuk
menyembuhkan infeksi yang ditimbulkan mikroorganisme ini menjadi tidak efektif
karena mikroorganisme semakin sukar untuk disembuhkan.
Dalam sebuah seminar bertajuk "Cegah
Resistensi Antibiotika Demi Selamatkan Manusia" Menteri Kesehatan Prof. dr.
Nila Djuwita F. Moeloek, Sp. M, memberikan pernyataan pembuka bahwa penggunaan antibiotik yang tidak bijak menjadi
penyebab terjadinya resistensi obat. Dan ini terjadi tidak hanya pada manusia
tetapi juga hewan. Ternak sapi yang diberikan antibiotik, tanpa diikuti dengan
pemberian obat yang benar sesuai dengan dosis yang ditentukan dan lama waktu
pemberian yang tepat oleh peternak akan memacu muculnya bakteri resisten.
Bakteri resisten tersebut dalam tubuh ternak akan tumbuh dan bereplikasi
memperbanyak diri. Selama proses metabolisme hingga pengeluaran kotoran ternak,
bakteri resisten ini ikut keluar bersamaan dengan feses dan mengkontaminasi ke
lingkungan/ tanaman sehingga mengakibatkan pencemaran lingkungan dan
kontaminasi sayur serta buah-buahan oleh bakteri resisten ini. Melalui angin,
feses yang telah kering akan diterbangkan oleh angin dan akan
mengkontaminasikan manusia dan benda hidup lainnya. Penelitian yang dilakukan oleh
Tim dan Texas menemukan bahwa dari hasil debu yang mereka kumpulkan dari 10
peternakan domba di Lone Star, Tim menemukan bahwa sampel berisi bakteri yang
memiliki gen resisten. Hal ini menunjukkan bahwa debu kini menjadi media
pembawa (mechanism transport).
Berangkat dari kalimat “from the farm to
the table”, daging yang telah terkontaminasi bakteri resisten secara
otomatis masuk kedalam tubuh manusia melalui hidangan di meja makan, kemudian
tumbuh dan memperbanyak diri dalam tubuh manusia.
Pada
manusia, praktik penggunaan antibiotik di masyarakat lebih merupakan praktik
swa-medikasi, membeli antibiotik di warung atau apotek tanpa resep, berhenti
mengkonsumsi antibiotik begitu gejala berkurang, dan memberikan antibiotik
kepada tetangga atau orang lain dengan gejala sakit yang sama. Tentu saja
hal-hal seperti ini sering kita temukan di lingkungan sekitar kita. Sehingga
kesadaran akan penyebaran bakteri resisten harus menjadi penting untuk
dikendalikan. Selain interaksi antara manusia, interaksi antara manusia hewan
dan lingkungan kian menjadi ancaman kesehatan di tingkat regional maupun
internasional, sehingga perlu adanya suatu konsep kerja sama diantara semua
pemangku kepentingan secara professional dalam mencegah dampak resistensi
antimikroba.
One Health merupakan
sebuah strategi dunia untuk mengembangkan kolaborasi dan komunikasi
interdisiplin dalam seluruh pelayanan aspek kesehatan dengan melibatkan tiga
domain utama dalam pendekatan One Health,
yaitu manusia, hewan dan lingkungan. Dimana, manusia, hewan dan lingkungan/ ekosistem
saling tergantung dan saling mempengaruhi dan menyebar begitu cepat melalui
lingkungan dan iklim, tingkah laku manusia dan masyarakat, pangan pertanian,
serta ekonomi dan pembangunan. One Health
menjadi jawaban yang paling efektif untuk menjawab ancaman resistensi
antimikroba. One Health menjadi
begitu penting karena penggunaan antibiotik secara tidak hati-hati baik pada
kesehatan manusia maupun agrikultur hanya dapat dikurangi melalui tindakan yang
dilakukan bersama-sama secara kolaboratif oleh seluruh sektor terkait:
kesehatan manusia, hewan, ikan termasuk juga budidaya air, dan ekosistem serta
kesehatan lingkungan.
Penulis juga memiliki pengalaman mengikuti pelatihan One Health yang diselenggarakan oleh
Fakultas Kedokteran Universitas Mataram selama tiga hari di tahun 2016. Dalam
pelatihan tersebut, penulis menyadari bahwa komunikasi, kolaborasi dan
kepercayaan antara praktisi kesehatan manusia, hewan dan lingkungan merupakan
jantung dari konsep ini. Konsep ini membicarakan hal yang sangat luas, mulai
dari penyakit–penyakit menular (zoonosis)
dan kronis yang muncul, penyalahgunaan antibiotik dan penggunaan yang
berlebihan dari antibiotik. Hal-hal lain yang menjadi isu penting adalah upaya
pencegahan infeksi yang efektif melalui penerapan hidup bersih dan higienis, sanitasi dan biosekuriti dan
mengoptimalkan penggunaan antimikroba. Melihat seluruh pemaparan kasus AMR
diatas, sudah saatnya kita memperlihatkan kekompakan kita untuk sama-sama
saling sadar akan ancaman AMR. Kita tidak usah lagi melihat resistensi
antimikroba sebagai masalah yang berdiri sendiri, tetapi juga terkait dengan
berbagai sektor.
Sebagai
seorang mahasiswa yang bergelut di bidang peternakan, yang nantinya akan
menyediakan protein hewani yang bersumber dari daging, telur maupun susu dari
hasil produksi ternak, dimana ternak juga menjadi domain utama sebagai karier/
pembawa resistensi mikroba, diharapkan mampu menyikapi tantangan untuk
meningkatkan kesadaran dalam penggunaan antimikroba secara bijak, serta
menggali berbagai informasi untuk mendorong dan mendukung penentuan,
pengembangan, penggunaan dan penegakan aturan/ kebijakan terkait pengendalian
pengunaan antimikroba di Indonesia. Mulai dari hal – hal yang kecil, misalnya
mulailah dengan tidak ketergantungan mengkonsumsi antibiotik untuk
penyakit-penyakit yang sekiranya tidak perlu menggunakan antibiotik, mulailah
menjaga kebersihan dimanapun berada, memasak makanan terutama daging hingga
matang. Kepada para peternak, lebih bijak lagi dalam memberikan antibiotik
kepada ternaknya, dan sebaiknya mengkonsultasikan dosis dan frekuensi pemberian
kepada dokter hewan.
Penulis
berharap, penguatan otoritas veteriner dalam pengendalian penyakit hewan dapat
dioptimalkan, menjadikan urusan kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat sebagai
urusan yang wajib dalam PERDA, dan penguatan kolaborasi, koordinasi dan
komunikasi dengan sektor terkait. Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA)
juga dapat meningkatkan koordinasi dan harmonisasi dengan pemerintah daerah
dalam penggunaan antibiotik secara bijak dan bertanggung jawab dalam pencegahan
dan pengendalian AMR.
Terimakasih banyak pembaca. semoga bermanfaat.
IG: diannurwm