TUGAS MAKALAH
MANAJEMEN TERNAK UNGGAS
Dosen
pengampu : Dr.Ir. Moh.Hasil Tamzil, M.Si

OLEH
NAMA : DIANNUR WAHYU MARINI
KELAS : 5A2
NIM :
B1D014067
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS MATARAM
2016
|
1.
Avian Encephalomyelitis
|
||
|
Nama lain
|
:
|
Epidemic Tremor, Infectious Avian Encephalomyelitis
|
|
Penyebab
|
:
|
Disebabkan oleh virus RNA dari family Picornaviridae.
Dengan mikroskop electron terlihat virion-virion yang berbentuk heksagonal
dan mempunyai enveloped serta mempunyai diameter 24-32 nm. Virus AE tahan
terhadap kloroform, tripsin, asam dan pepsin serta DNase.
|
|
Penularan
|
:
|
Virus AE ditularkan melalui dua cara
yaitu secara vertikal dan horizontal, secara vertikal melalui telur, dimana
telur dierami oleh induk yang terinfeksi secara sub klinis sehingga menjadi
media pembawa virus, setelah telur menetas maka anak ayam akan terinfeksi
secara klinis virus tersebut. Secara horizontal anak ayam yang terinfeksi
tersebut akan menyebarkan virus pada ayam lainnya dalam satu kelompok melalui
feses yang mengandung virus. Masa inkubasi penyakit AE melalui kontak
langsung paling lama 11 hari dan bila melalui telur (embrio telur) selama 7
hari.
|
|
Gejala Klinis
|
:
|
Pada anak ayam umumnya umur 1-2 minggu
ditemukan gejala antara lain ayam awalnya tampak sayu, diikuti ataksia karena
adanya inkoordinasi dari otot-otot kaki, sehingga ayam dapat jatuh ke samping
dengan kedua kaki terjulur ke satu sisi, tremor pada kepala dan leher terutama
bila dipacu, keadaan akan berlanjut dengan kelumpuhan dan diakhiri dengan
kematian. Pada ayam petelur gejala yang terlihat hanyalah penurunan produksi
telur antara 5-10% dan tidak diikuti gejala gangguan syaraf. Pada ayam
pembibitan ditemukan adanya daya tetas telur yang menurun dan anak ayam yang
ditetaskan akan banyak tertular penyakit AE
|
|
Diagnosa
|
:
|
Diagnosa dapat dilakukan dengan
melakukan isolasi dan identifikasi virus AE dan dengan melihat gambaran
histopatologis otak. Untuk isolasi virus, suspensi otak disuntikkan pada TAB
umur 5 hari melalui kuning telur. Anak ayam yang menetas kemudian diamati
pada 10 hari pertama, bila positif
akan terlihat gejala penyakit AE pada anak ayam.Selain itu dapat pula
dilakukan inokulasi sampel otak pada anak ayam umur 1 hari secara intra
cerebral, yang dapat diamati selama 2 bulan serta diamati ada tidaknya gejala AE.Dapat pula dilakukan
diagnosa dengan cara membuat biakan jaringan dari otak embrio ayam terinfeksi
dan dilakukan uji indirect FAT dan ternyata cara ini lebih sensitif daripada cara inokulasi.
Selain itu dapat pula dilakukan metode enzyme linked immunosorbent assay
(ELISA), Immuno Diffusion (ID)atau
Embryo Susceptibility Testdan Virus Netralisasi (VN) Test.
|
|
Pengobatan
|
:
|
Cara pengobatan belum ada. Pada ayam
yang masih hidup dapat diberikan ransum pakan yang baik disertai vitamin dan
elektrolit
|
|
Pencegahan
|
:
|
Untuk mencegah penyakit ini
dapat dilakukan vaksinasi AE. Ayam yang
masih dara yang akan digunakan untuk pembibitan perlu divaksinasi pada umur 10 dan 15 minggu. Vaksin dapat
diberikan melalui air minum atau suatu produk kombinasi dengan vaksin cacar
(avian pox) yang diberikan secara
intra dermal atau penusukan (penggoresan) pada selaput sayap. Vaksinasi cukup
dilakukan satu kali dan biasanya dapat melindungi sampai ayam diafkir.
Pencegahan pada daerah yang tertular dapat diberikan vaksinasi terhadap ayam
dewasa. Bagi peternakan yang tertular maka agar diterapkan biosekuriti yang
ketat. Barang maupun orang yang keluar dari peternakan yang bersangkutan
harus disuci hama dan ayam dari lokasi tersebut tidak boleh dikeluarkan
selama penyakit tersebut. Karena
penyakit ini dapat diturunkan melalui telur, maka harus diupayakan bibit yang
berasal dari induk yang bebas AE. Anak ayam yang menderita AE, sebaiknya
dimusnahkan dengan cara membakarnya
atau menguburnya. Hal ini
dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit lebih luas lagi. Kandang dan
peralatan yang tercemar harus segera disucihamakan dengan desinfektan.
Sedangkan ayam dewasa yang dikhawatirkan sebagai pembawa penyakit (carrier)
dapat dipotong dan dagingnya dapat dikonsumsi dan telurnya dapat dijual
sebagai telur konsumsi. Ayam yang terserang AE dapat sembuh, namun sangat
sedikit yang dapat mencapai kesembuhan dan biasanya sudah tidak efisien lagi
untuk dipelihara.
|
|
2. Avian Influenza (AI)
|
||
|
Penyebab
|
:
|
Virus famili orthomyxoviridae
|
|
Sumber infeksi
|
:
|
unggas piara, spesies unggas domestikasi
yang lain, burung piara eksotik, unggas liar, hewan lain.
|
|
Gejala Klinis
|
:
|
sangat bervariasi
tergantung spesies, jenis kelamin, infeksi ikutan, virus yang menginfeksi,
factor lingkungan dan sebagainya yaitu aktivitas menurun, konsumsi pakan
menurun, emasiasi, ayam mengeram lebih lama, produksi telur menurun, gangguan
pernapasan dari yang ringan sampai berat, batuk ,bersin lakrimasi yang
berlebihan, sinusitis, bulu menggelapai, edema pada muka dan kepala, terdapat
sianose pada kulit yang tidak berbulu, gangguan saraf dan diare.
Dari tanda klinis
ini biasanya hanya salah satu tanda saja yang terlihat atau beberapa kombinasi.
Pada kasus yang sangat cepat ayam-ayam mati tanpa
tanda-tanda. Ayam sakit dalam keadaan komatose sering kepalanya menyentuh
lantai.
|
|
Diagnosa
|
:
|
Dengan pemeriksaan serologi dan virologi. Spesimen berupa swab trakea dan
kloaka.
|
|
3.
Snot (Infectious Coryza)
|
||
|
Penyebab
|
:
|
Hemophilus
paragallinarum
|
|
Gejala klinis
|
:
|
Konsumsi makanan, produksi telur atau pertumbuhan menurun cukup tajam.
-terlihat adnya leleran hidung dan mata yang kadang-kadang disertai mata
lengket / tertutup
-udema muka, gangguan pernapasan dan mungkin disertai diare
-keadaan ini
melanjut dengan ditemukannyabeberapa penderita dengan pembengkakan sinus infra orbitalis dan / atau eksudat pada kantung
konjunctiva.
|
|
Diagnosa
|
:
|
- sejarah,
gejala klinis dan lesi yang menciri bisa digunakan sebagai dasar diagnosa.
- preparat ulas eksudat hidung harus dibuat
dan diwarnai,
- isolasi dan identifikasi organisme dari eksudat sinus
- bisa juga dilakukan uji biologis terhadap eksudat dari sinus ayam peka
- HI dan AGID test serum penderita
|
|
Pencegahan
|
:
|
- beli anak ayam yang bebas koriza dan pelihara dengan sanitasi ketat
- bila ada outbreak perlu dilakukan depopulasi kemudian kandang dibersihkan
dan desinfeksi, istirahatkan beberapa hari. Kemudian masukkan ayam baru yang
bebas koriza
- lakukan vaksinasi
|
|
Pengobatan
|
:
|
beberapa
preparat sulfa dan antibiotik bisa digunakan. Obat yang bisa dipakai yaitu
streptomycin, erythromycin, sulfadimethoxine
|
|
4.
NEWCASTLE DISEASE (ND)
|
||
|
Nama lain
|
:
|
Tetelo, penyakit Samper
Ayam, dan Pes Cekak
|
|
Penyebab
|
:
|
Virus Paramyxo
|
|
Penularan
|
:
|
Kontak dengan hewan sakit melalui eksudat, feses dan urine atau melalui
perlengkapan kandang termasuk pakan. Penularan dari satu tempat ke tempat
yang lain melalui transportasi, pekerja kandang, burung liar, angin, serangga
dsb.
|
|
Gejala klinis
|
:
|
tergantung
dari virulensi virus yang menulari bisa asimptomatis, gejala pernapasan
ringan atau gejala pernapasan disertai gangguan syaraf atau kombinasi
gangguan pernapasan dan digesti.
|
|
Diagnosa
|
:
|
isolasi dan
identifikasi dengan uji HA (hemaglutinasi) dan HI (Hemaglutinasi Inhibition)
|
|
Pencegahan
|
:
|
Sanitasi
kandang yang baik, anak ayam harus berasal dari peternakan yang bebas ND dan
selalu dilakukan vaksinasi pada hewan-hewan yang peka.
|
|
5.
Infectious Bronchitis (IB)
|
||
|
Penyebab
|
:
|
Coronaviridae
|
|
Gejala klinis
|
:
|
pada ayam muda
penyakit IB sangat cepat ditandai dengan sulit bernapas, sedikit ngorok dari
hidung dan mata keluar eksudat. Produksi telur menurun antara 10-50 %, bentuk
telur abnormal, kerabang lunak atau kasar, daya tetas menurun.
|
|
Diagnosa
|
:
|
Histopatologi, Virologi
|
|
Pencegahan
|
:
|
Pemeliharaan kandang yang sehat dan vaksinasi secara teratur
|
|
6.
Pullorum
|
||
|
Nama lain
|
:
|
Berak Kapur
|
|
Penyebab
|
:
|
Salmonella pullorum
|
|
Penularan
|
:
|
melalui air, makanan dan lingkungan yang
terkontaminasi, penularan juga dapat terjadi akibat
kanibalisme ayam yang mengalami bakterimia.
|
|
Gejala klinis
|
:
|
- pada ayam dewasa tidak menunjukkan gejala klinis.
- pada ayam yang baru menetas kelihatan lemah dan kemudian mati.
- Anak ayam yang sakit kelihatan ngantuk dan lemah.
- Juga terlihat penurunan nafsu makan, diare putih yang menempel,
berkelompok didekat sumber panas dan menciap-ciap.
- Beberapa hari kemudian mungkin timbul gangguan pernapasan pada anak
ayam yang menghirup bibit penyakit pada penetasan
|
|
Diagnosa
|
:
|
isolasi dan identifikasi
|
|
Pencegahan
|
:
|
dengan cara monitoring dengan uji serologi secara rutin.
|
|
Pengobatan
|
:
|
Pada ayam pedaging kadang-kadang dilakukan pengobatan, kemudian tetap
dipelihara dan dijual tanpa kerugian yang banyak. Pada ayam petelur dianjurkan
untuk depopulasi. Penggunaan obat sulfa atau furazolidon atau antibiotik
berspektrum luas. Obat hendaknya dicampurkan pada air minum.
|
|
7.
Fowl Pox (Cacar Ayam)
|
||
|
Penyebab
|
:
|
Virus DNA yaitu virus pox
|
|
Sumber penularan
|
:
|
Nyamuk
|
|
Penularan
|
:
|
melalui luka pada kulit, bisa juga melalui keropeng tertular yang
dimakan, penularan langsung juga dapat terjadi misalnya dengan mematuk-matuk
ayam sakit
|
|
Gejala Klinis
|
:
|
Mula-mula berupa papula kecil berwarna kelabu di daerah kulit yang tidak
berbulu, pada bagian kepala dan kaki. Beberapa radang bergabung membentuk
radang yang besar dan akhirnya membentuk keropeng besar. Apabila keropeng
dikelupas akan terjadi perdarahan dilapisan bawahnya. Pada tipe cacar basah
akan terlihat bercak berwarna kuning pada selaput lendir mulut, lubang hidung
dan faring, sering menyebabkan penyumbatan saluran udara yang mengakibatkan
penderita tercekik.
|
|
Diagnosa
|
:
|
histopatologi
|
|
Pencegahan
|
:
|
Ayam yang tertular diisolasi sedangkan ayam disekitar kandang harus
divaksinasi. Untuk mencegah infeksi sekunder diberi antibiotik dan vitamin.
Populasi nyamuk dapat ditekan dengan menggunakan pestisida.
|
|
8.
Gumboro (Infectious Bursal Disease/IBD)
|
||
|
Penyebab
|
:
|
birnavirus
|
|
Penyebaran
|
:
|
melalui kontaminasi virus pada peralatan kandang, pakan, alat angkut dan
bahan-bahan lain yang digunakan dalam kandang.
|
|
Gejala klinis
|
:
|
dikenal dua bentuk penyakit gumboro yaitu subklinis dan klinis.
a. Bentuk Subklinis
Menyerang ayam muda yang umurnya kurang dari tiga
minggu dan tidak terlihat gejala klinisnya. Biasanya tidak menimbulkan
kematian tetapi ayam yang terserang dan sembuh dari penyakit akan mengalami
imunodepresi akibat kerusakan sel-sel limfosit pembentuk antibodi yang berada
dalam bursa fabrisius, thymus dan limpa. Ayam menjadi tidak tanggap terhadap
vaksinasi dan kematian terjadi akibat infeksi penyakit lain.
b.
Bentuk Klinis
Kejadiannya berjalan akut dengan tanda-tanda klinis
ayam menjadi lesu, inkoordinasi, tremor, mencret putih dan berlendir,
mematuk-matuk kloaka dan bulunya kusam. Bila terjadi infeksi sekunder,
kesembuhan dapat terjadi dalm waktu kurang dari satu minggu dan kematian
tidak lebih dari 20%.
|
|
Diagnosa
|
:
|
sejarah penyakit, gejala klinis dan perubahan pasca mati, isolasi virus,
histopatologi.
|
|
Pencegahan
|
:
|
Vaksinasi
|
|
9.
Fowl kolera (kolera unggas)
|
||
|
Penyebab
|
:
|
Pasteurella multocida
|
|
Penularan
|
:
|
Kanibalisme unggas yang menderita atau mati karena kolera merupakan
penularan yang cukup penting.
|
|
Gejala Klinis
|
:
|
- pada kolera akut dijumpai kematian yang tiba-tiba.
- Ayam yang menderita kolera nafsu makannya turun, depresi, kebiruan,
mengeluarkan cairan kental dari mulut atau hidung, diare putih berair atau
hijau mengental.
- Pada kasus yang kronis dijumpai pembengkakan persendian, cuping, telapak
kaki atau selaput sendi. Eksudat biasanya mengkeju dan bisa terkumpul didalam
selaput selaput mata atau sinus infraorbitalis
|
|
Diagnosa
|
:
|
bedah bangkai, sejarah penyakit dan tanda klinis, isolasi dan
identifikasi bakteri.
|
|
Pencegahan
|
:
|
kebersihan lingkungan, vaksinasi, bila ada outbreak sebaiknya dilakukan
depopulasi
|
|
Pengobatan
|
:
|
obat yang sering dipakai yaitu sulfamethoxine, sulfaquinoxaline,
sulfamethazine, sulfamerazine, tetracyclin, erythromycin, streptomycin,
penicillin.
|
|
10. Chronic Respiratory
Disease ( CDR )
|
||
|
Nama lain
|
:
|
Penyakit Ngorok, Mikoplamosis atau
Sinusitis atau Air Sac
|
|
Penyebab
|
:
|
Bakteri Microplasma
Galisepticum
|
|
Penularan
|
:
|
Kontak Langsung,Peralatan
Kandang,Makan Dan Minum,Manusia,Telur Tetas atau DOC yang Terinfeksi.
Penularan Penyakit Terjadi Baik Vertikal Maupun Horizontal. Secara Vertikal
Dapat Melalui Induk yang Menularkan Penyakit Melalui Telur Dan Horizontal
Disebabkan Dari Ayam yang Sakit ke Ayam yang Sehat. Penularan-penularan Tidak
Langsung Dapat Melalui Kontak Dengan Tempat Peralatan, Wadah Pakan, Hewan
Liar Maupun Petugas Kandang.
|
|
Gejala klinis
|
:
|
Ngorok Basah, Adanya
Leleran Hidung Lengket Dan Terdapat Eksudat Berbuih Pada Mata, Ayam Suka
Mengeleng gelengkan Kepala. Pada Kasus Kronis Mengakibatkan Kekurusan Dan
Kekurangan Cairan Bernanah Dari Hidung.
|
|
Pengobatan
|
:
|
Pengobatan CDR Pada Ayam
yang Sakit Dapat Di Berikan Baytrit 10% Peroral, Mycomas Dengan Dosis 0,5
ml/L Air Minun. Tetracolin Secara Oral Atau Bacytracyn yang Di Berikan Pada
Air Minum.
|
|
Pencegahan
|
:
|
Membeli Ayam Baik Indukan,
Pejantan, maupun Anakan yang Benar-terbebas Dari Penyakit CDR. Menjaga
Kebersihan dan Tingkat Kelembaban Kandang Dan Area Ayam.
|
|
11.
Penyakit Infectious Laryngotracheitis (ILT)
|
||
|
Penyebab
|
:
|
Herpes Virus.
|
|
Penularan
|
:
|
Virus Ifectius
Laryngotraheitis atau (ILT) Di Tularkan Melalui Pernafasan Dan Dapat Melalui
Udara Secara Kontak Langung Melalui Burung Misal Dan Satu Kandang. Virus
Masuk Dan Menginfeksi Burung Melalui Mata, Hidung atau Mulut. Mulut Dan Darah
yang Mengandung Virus Dapat Keluar Melalui Batuk Dan Menyebabkan Virus. Masa
Inkubasinya Antara 6-12 Hari. Kejadian Outbreak Dapat Di Karenakan Lalu
Lintas Unggas. Pekerja dan Alat Kandang, dan Kondisi Lingkungan yang
Memungkinkan Terjadinya Penyebaran.
|
|
Gejala klinis
|
:
|
Dyspnoe, Rinitis
Produksi Telur Dan Daging menurun, Kadang-kadang Mengalami Pneumonia atau Bronkhopneumonia, Moralitas Mencapai 50% |
|
Diagnosa
|
:
|
Pada penyakit yang akut di
cirikan gelaja klinis dan penemuan darah, makus, eksudat kaseosa pada
trachea. Secara mikroskopik di tandai dengan desqumative dan nekrotic
tracheitis.
Diagnosa mungkin dapat diperkuat dengan ditemukannya inclusion body intramuclear pada epitel trachea, isolasi dan identifikasi virus secara spesifik dengan chicken embryo dan kultur jaringan atau dengan inokulasi pada sinus intraorbital untuk mengetahui imunitasnya. Spesimen dapat pula diinokulasi pada membran chorioallantois pada telur ayam berembrio Pemeriksaan mikroskopiknya pada lesi membran chorioallantois terdapat inclusion body intranuclear. Dapat dibedakan dengan Fowlpox pada lesi trachea dan inclusion bodynya berupa inclusion body intracytoplasmic. Diagnosa dapat pula dilakukan dengan PCR. Diferensial diagnosa 1. Infectious Bronchitis 2. Newcastle Disease 3. Mycoplasmosis 4. Avian coryza |
|
Pencegahan
|
:
|
1. Meminimalisir kotoran
dan debu.
2. Penggunaan mild expectorants. 3. Vaksinasi baik secara eye drop, spray maupun lewat air minum |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|